Tradisi Mudik di Negara Lain

Tradisi mudik sudah sangat terkenal di negara kita ini, apalagi kalau pas mau Lebaran (Idul Fitri). Namun apakah anda tahu kalau di negara lain juga ada yang mengenal tradisi mudik seperti kita, lalu apakah juga sama waktunya? Karena negara lain ada yang beragama beda, makanya waktunya beda. Berikut ini Negara yang mengenal tradisi Mudik selain Indonesia.


1. China

Pada saat tahun baru Imlek, kemeriahan sangat terasa di China. Saat libur Imlek, sebagian besar dari mereka memutuskan untuk pulang kampung atau pergi ke daerah pedesaan. Konon, mudik Imlek di kampung halaman itu dianggap yang terbesar di dunia. Maklum, China adalah negeri dengan jumlah penduduk terbanyak.

Pada saat Imlek, masyarakat China banyak yang memilih

pulang kampung untuk menghadiri perjamuan dan perayaan bersama keluarga dan teman. Dikutip dari hindustantimes.com (2/1/2012), saat Imlek adalah saat untuk saling terhubung kembali atau silaturahim satu sama lain.

Seiring pertumbuhan ekonomi China yang pesat, masyarakat memiliki banyak pilihan transportasi untuk mudik. KA, jalan darat, atau udara, tinggal pilih saja. Saat mudik, mereka membawa hadiah yang akan dibagikan pada orang tua dan kerabat. Mereka juga akan mengenakan pakaian dan perhiasan terbaik yang secara langsung atau tidak menggambarkan tingkat kemakmuran di perantauan.

Sebagaimana di Indonesia, para pemudik yang mayoritas pekerja dari daerah rela mengantre berjam-jam atau berhari-hari, demi mengantongi tiket kereta untuk pulang kampung. Diperkirakan ada 3,2 miliar orang yang melakukan perjalanan selama libur Imlek, atau naik 9,1 persen dari tahun 2011.

Untuk mengurangi panjang antrean, otoritas China juga menggunakan sistem online dalam penjualan tiket kereta. Untuk menekan percaloan, diterapkan pula sistem tiket dengan nama asli seperti yang tercantum di KTP. Namun karena ada calon penumpang yang membeli tiket dengan menitip kepada temannya, alhasil kasus nama di tiket berbeda dengan di KTP masih banyak ditemukan.
2. Korea

Aktivitas mudik di Korea sangat terlihat saat Chuseok. Chuseok ditetapkan sebagai hari libur resmi di Korea dan dirayakan secara besar-besaran pada bulan ke-8 di hari ke-15 penanggalan bulan. Disebut juga Hari Panen, Festival Bulan Musim Panen, atau Hangawi (hari besar di tengah-tengah musim gugur).

Bagi kebanyakan masyarakat Korea, jika mendengar kata Chuseok, ma

ka hal-hal yang terlintas di pikiran mereka adalah kemacetan parah, mudik, dan peringatan arwah leluhur. Saat Chuseok, kebanyakan orang Korea akan bepergian dengan keluarga dan teman-temannya.

Sebagian orang Korea lainnya akan pulang kampung untuk mengunjungi altar leluhurnya. Menurut wikipedia, di pagi hari orang Korea melakukan penghormatan terhadap arwah leluhur dengan berziarah ke makam. Mereka juga mempersembahkan makanan, buah-buahan, minuman dan hasil panen kepada arwah leluhur.

Karena di kesempatan itu masyarakat Korea menyampaikan terimakasihnya kepada leluhur, Chuseok sering dipahami oleh orang asing sebagai hari Thanksgiving atau hari bersyukur versi Korea.

Korea Times menyebut setiap tahunnya saat Chuseok digelar, jutaan orang Korea pulang ke kampung halamannya untuk memberikan penghormatan kepada leluhur dan merayakan libur bersama dengan keluarga. Maka itu, kemacetan parah sepanjang jalan tak terhindarkan. Kereta api pun menjadi salah satu moda transportasi yang disasar masyarakat untuk mudik.

Orang Korea merayakan Chuseok dengan melakukan ritual seperti charye dan seongmyo dan menghabiskan waktu dengan makan dan minum bersama keluarga. Makanan khas saat Chuseok adalah kue songpyeon yang terbuat dari tepung beras dan diisi kacang atau wijen. Biasanya di malam sebelum Chuseok, semua anggota keluarga akan duduk bersama membuat songpyeon sembari melihat bulan. Bagi yang masih single, mereka akan membuat songpyeon sebagus mungkin karena konon bisa membuat mereka mendapatkan pasangan yang cantik atau tampan.

Selain makan bersama, mereka juga melakukan permainan dan kesenian tradisional bersama seperti sonori (permainan sapi), geobuknori (permainan kura-kura), ganggangsullae (tarian melingkar) dan ssireum (bergulat). Tak heran, kesempatan ini banyak dinantikan orang-orang Korea.
3. India

Tiap tahun, masyarakat India pulang ke kampung halaman untuk merayakan Festival Cahaya atau Diwali (Deepavali). Menurut kalendar Gregorian, biasanya perayaan ini jatuh pada bulan Oktober atau November, dan dirayakan selama lima hari berturut-turut

Diwali digelar untuk memperingati kembalinya Rama yang merupakan Raja Ayodhya, istrinya, Sinta, dan adiknya Laksamana ke Ayod

hya dari perang di mana Rama membunuh Rahwana. Festival ini juga menandakan kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Saat perayaan, rumah-rumah didekorasi dengan kilauan di mana-mana. Malam Diwali pun meriah dengan petasan-petasan di sepanjang jalan.

Nah, menjelang Diwali, biasanya kereta akan sangat ramai. Sebab perjalanan ke kampung halaman atau mudik sudah menjadi semacam ritual, lantaran banyak yang ingin merayakannya bersama keluarga dan teman dekat.

Jika tak ingin kehabisan tiket kereta, maka calon penumpang harus memesannya sejak jauh hari. Bahkan kerap kali tiket kereta sudah habis jauh sebelum arus mudik berlangsung. Saat arus mudik, kereta-kereta sedikit tertunda perjalanannya karena kenaikan volume perjalanan.

Pemudik ini masih harus ditambah sejumlah wisatawan yang ingin berlibur pada saat perayaan digelar. Bisa dibayangkan bukan bagaimana sibuknya transportasi di India?

4. Bangladesh
 
Mudik saat Idul Fitri juga menjadi rutinitas yang dilakukan warga Bangladesh setiap tahunnya. Di negara yang mayoritas Muslim ini, banyak warga yang ingin ber-Idul Fitri bersama dengan orang-orang yang mereka cintai di kampung halaman.

Xinhua pada pada 8 Agustus lalu melaporkan warga Bangladesh merayakan Idul Fitri dengan tambahan tiga hari libur sejak 19 Agustus mendatang. Beberapa hari sebelum Idul Fitri, arus mudik di Bangladesh sudah terlihat di mana ribuan orang berbondong-bondong menyerbu terminal bus, stasiun kereta api dan perahu sungai demi mendapatkan tiket mudik.

Sejak 5 Agustus, Bangladesh Railway (BR) mulai menjual tiket untuk memudahkan perjalanan sekitar 300 ribu orang dengan lusinan kereta khusus. Rupanya KA menjadi moda transportasi favorit, karena banyak orang yang menyerbu stasiun Kereta Api utama Dhaka Kamalapur. Mereka memilih kereta api lantaran ingin menghindari perjalanan darat yang buruk akibat jalan yang rusak parah dan bergelombang selama musim hujan.

Demi mendapatkan tiket kereta, calon penumpang bahkan rela mengantre sejak pagi, dan berganti-gantian dengan kerabatnya agar tak terlalu lelah. Bangladesh menerapkan kebijakan satu orang hanya boleh membeli maksimal empat tiket di loket tiket yang buka sekitar 8 jam dalam sehari.

Antrean panjang juga terlihat di counter perusahaan bus swasta. Calon penumpang tidak kehilangan minat mengantre demi bisa mudik meski harga tiket melambung. Meningkatnya harga tiket ini juga dimaksudkan untuk menutup kerugian lantaran sebelum Idul Fitri, penumpang bus sangatlah sedikit.

Karena membeludaknya jumlah pemudik, pemerintah Bangladesh pun berupaya untuk menambah armada. Apalagi dalam 7 hari diperkirakan 4 hinggga 5 juta orang akan mudik ke kampung halamannya. Bagi yang tidak terakomodasi angkutan umum, mereka memilih mudik dengan kendaraan pribadi.


5. Malaysia


Balik kampong. Itulah istilah orang Malaysia untuk menyebut mudik. Sebagaimana di Indonesia dan beberapa negara lainnya, warga Malaysia juga sibuk mudik untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga dan kerabat.

Dari Islamonline, bus, mobil, dan van berjalan beriringan di jalan raya menuju ke daerah-daerah lain di Malaysia. Tak hanya itu, kereta api dan pesawat juga ramai dipesan oleh para pemudik.

Sebelum mudik, biasanya mereka sibuk belanja di pusat perbelanjaan. Sedangkan di kampung, keluarga sibuk berbenah menyambut kedatangan anak-anak dan kerabat lainnya dari kota.

Saat Idul Fitri, anggota keluarga besar akan bertemu. Minta maaf pun dilakukan kepada orang tua, teman, dan keluarga lainnya. Tak hanya saling minta maaf, mereka juga menyempatkan diri untuk mengunjungi makam keluarga dan orang-orang terkasih yang sudah meninggal. Mereka membersihkan makam, membaca surat Yasin dan surat-surat Alquran lainnya.

Pada saat Idul Fitri, orang-orang dewasa juga menjadi sangat murah hati. Anak-anak mendapatkan sejumlah uang dari orang tuanya atau orang yang lebih tua yang disebut sebagai 'duit raya'.

Selain Idul Fitri, sejumlah warga di Malaysia juga mudik pada saat Imlek. Karena saat itu pemerintah memberikan hari libur bagi warganya.

6. Amerika Serikat
 
Mudik juga merupakan kegiatan yang akrab bagi warga Amerika Serikat. Kapan mereka mudik? Ternyata mereka pulang ke kampung halaman pada saat Thanksgiving. Perayaan ini jatuh setiap hari Kamis keempat di bulan November.

Thanksgiving merupakan liburan terpopuler di AS karena menjadi kesempatan orang Amerika mengunjungi sanak famili. Untuk diketahui, Thanksgiving dimulai sejak abad 17. Mereka berpesta dan berdoa bersama di musim gugur dengan keluarga dan kerabat dekatnya sebagai bentuk terimakasih kepada Squanto. Sebab pria Indian itu telah mengajarkan penduduk Plymouth, Massachussets, cara bertahan hidup dengan menangkap belut dan menanam jagung.

Pada saat berkumpul dengan keluarga dan kerabat, warga AS akan makan bersama dengan menu khas Thanksgiving. Menu utamanya adalah kalkun dengan kentang yang dilengkapi dengan kuah daging. Sejumlah makanan lain seperti kue labu akan memeriahkan pesta di meja makan. Nyam!

Pada November 2011 lalu, menurut Xinhuanews, sekitar 42,5 juta penduduk Amerika Serikat mudik menggunakan transportasi darat saat liburan Thanksgiving. American Automobile Association (AAA) merilis rata-rata pengguna mobil akan melakukan perjalanan sejauh 80 km selama akhir pekan.

Kebanyakan warga AS pada tahun lalu memilih menggunakan kendaraan pribadi lantaran melambungnya harga tiket sebagai imbas naiknya harga bahan bakar minyak. Tiker pesawat rute dalam negeri pun ikut meningkat harganya.

Sumber.

2 komentar: